Sholat akan menjadi tiang agama ( baca : Dien ) Islam ketika memang menjadi sarana hubungan ruh seorang muslim dengan Sang Khaliqnya , dan ketika merupakan kesempatan termahal untuk mengadukan segala problematika disamping untuk mengingatNya, menyebutNya, bercengkrama untuk meraih cinta suciNya, kitapun sangat butuh energi baru dan tenaga bermutu dalam mengarungi lautan kehidupan itupun nge”charger”nya lewat sholat , betapa urgennya sholat itu, bukan sekedar rutinitas yang membosankan dan menjenuhkan kecuali orang yang belum paham atau sakit hatinya.
Dalam sejarah Nabi Muhammad - shollallahu alaihi wa sallam - menjadikan sholat lima waktu sebagai sarana tranformasi, edukasi dan konsolidasi yang efektif, bahkan berkali-kali beliau melakukan eksekusi dan pelaksanaan hudud ( hokum syar’I )pun dimasjid setelah jamaah sholat. Jadi sholat dizaman itu sangat erat berhubungan dengan urusan pendidikan, politik, social, dakwah dan jihad bukan urusan pribadi ansich dan tapi tidak bisa dipisahkan dengan urusan orang banyak..luar biasa !!!
Tidak kenal lelah dia membangun kota dan Negara madinah dengan menegakkan tonggak-tonggaknya terutama sholat lima waktu. Terutama setelah turun ayat
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى ( طه 132 )
Artinnya :” Dan perintahkan keluargamu untuk menegakkan sholat dan bersabarlah akan halnya, Kami tidak mengharap rezqi darimu ( Tapi ) Kamilah yang memberimu rizqi dan kesudahan yang baik untuk ketaqwaan “ Q.S. Thaha 132, pagi-pagi Subuh sambil berangkat ke masjid dia lewati rumah Ali bin Abi tholib sambil mengetuk pintunya barangkali belum bangun, dia katakana : “ Sudahkah kalian bangun ?? yang di dalam menjawab, alhamdulillah kami sudah bangun…begitulah keharmonisan keluarga Rasulullah - shollallahu alaihi wa sallam - dibangun diatas sendi yang amat kokoh.
Beres sholat jamaahnya beres urusan lainnya ?
Integritas sholat jamaah adalah sangat berpengaruh terhadap keberesan seseorang dalam kehidupannya alias semakin nikmat merasakan setiap detik sholat jamaah lima waktu, sejak mulai bangun tidur dan bersiap-siap untuk berwudlu atau mandi janabah, kemudian melangkahkan kaki ke masjid tanpa pamrih apapun kecuali untuk menggapai ridlo Allah ta’ala , dan langkah kakipun disertai doa-doa memohon cahaya bagi seluruh anggota tubuhnya dan yang lahir maupun bathin hingga di masjid tak pernah lupa memohon rahmatNya, maka sebenarnya dia telah membangun komunikasi yang sinergis serta siap untuk menerima segala amanah yang telah disiapkan dan di taqdirkan untuk mampu memikulnya. Sampai Umar bin Al Khaththabpun menjadikan sholat sebagai tolak ukur bagi urusan yang lain, simaklah riwayat berikut :
وقد كان عمر -رضي الله عنه-يبعث لولاته ويقول لهم: "ألا إن أهم أموركم عندي الصلاة، ألا إن من ضيع الصلاة فهو لماسواها أضيع " رواه مالك في الموطأ
Artinya : Adapun umar bin Al-Khaththab ketika mengutus wakil-wakilnyaselalu berpesan : “ Ketahuilah sesungguhnya urusan kalian yang paling pokok bagiku adalah sholat, ketahuilah siapa saja yang melecehkannya maka dia akan lebih melecehkan urusan lainnya “ diriwayatkan Imam Malik dalam Muwatho’
Hingga akhir hayat Rasulullah – shollallahu alaihi wa sallam - sedetikpun tidak pernah meremehkan sholat – masya Allah – pantesan dia dan nsahabat patut mendapat legimitasi “ Sebaik-baik ummat “ dari langit ke tujuh, dan manusiapun tinggal mengamininya dan tidak ada bandingannya baik sebelum maupun sesudah abad kenabian beliau itu. Inilah akhir dari perjalanan terindah dalam sejarah manusia yaitu pada saat itu Rosulullah – shollallahu alaihi wa sallam- masih dalam keadaan sakit yang amat sangat, dalam keadaan seperti dia berpesan : " jagalah shalat, jagalah shalat, juga hamba sahayamu! " (HR. Abu Daud dari Ali dan Ibn Majah dari Anas).
Udzur syar’I nya dari sholat jamaah itu apa ?
Saking pentingnya sholat lima waktu berjamaah bagi eksistensi ummat Islam sampai rasulullah – bersabda : “Artinya : Sungguh aku sangat ingin memerintahkan shalat untuk didirikan, lalu aku perintahkan seorang laki-laki untuk mengimami orang-orang, kemudian aku berangkat bersama beberapa orang laki-laki dengan membawa beberapa ikat kayu bakar kepada orang-orang yang tidak ikut shalat, lalu aku bakar rumah-rumah mereka dengan api tersebut” [Al-Bukhari, kitab Al-Khusumat 2420, Muslim, kitab Al-Masajid 651] wow ! mau membakar rumah-rumah orang yang malas dan tidak melaksanakan sholat jamaah, ini merupakan teraphy schok karena demikian gawat dan genting kalau pelecehan terhadap Ibadah kepada Yang Maha Kuasa itu terjadi dalam tubuh ummat Islam, memang hal itu sangat berpengaruh secara psykologi, “ kalau kepada Yang Maha Menciptakan saja bermain-main apalagi berurusan kepada sesamanya “ pasti lebih ringan konsekwensi batinnya, cobalah tengok betapa rusaknya masyarakat sekarang ini di karenakan para pemimpinnya tidak / kurang peduli terhadap tegaknya sholat jamaah – kecuali yang dirahmati Allah ta’ala..Terus apakah tidak ada udzur ??
Islam sebagai agama yang kenyal/kokoh tapi ada kelenturan yang tepat, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Artinya : Barangsiapa yang mendengar adzan tapi tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur” [Dikeluarkan oleh Ibnu Majah, kitab Al-Masajid 793, Ad-Daru Quthni 1/420, 421, Ibnu Hibban 2064, Al-Hakim 1/246 dengan isnad shahih]
Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, “Apa yang dimaksud dengan udzur itu ?” ia menjawab, “Takut atau sakit”. Dalam Shahih Muslim, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau didatangi oleh seorang laki-laki buta, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Apakah aku punya rukhshah untuk shalat di rumahku ?” kemudian beliau bertanya,
“Artinya : Apakah engkau mendengar seruan untuk shalat ?” ia menjawab, “Ya”, beliau berkata lagi, “Kalau begitu penuhilah” [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Masajid 653]
Dalam Ash-Shahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.
Semoga ummat islam diberi kemudahan dan keringanan ketika dipanggil oleh Allah ta’ala untuk mendapatkan pahala sholat berjamaah yang berlipat duapuluh tuhjuh kali dibanding sholat sendirian, disamping mendapatkan hikmah-hikmah yang lain amin
Dibawah ini fatwa berhubungan dengan penegakan sholat yang bisa diberlakukan ketika hukum yang dipakai adalah memihak kepada hukum Islam, meskipun hanya penguasanya yang muslim sedang rakyatnya hanya minoritas yang muslim tetap dapat dijalankan hudud yang berkaitan dengan sholat jamaah lima waktu ;
” Barangsiapa yang meninggalkan shalat setelah usia baligh dan enggan menerima nasehat, maka perkaranya bisa diadukan kepada mahkamah syari’ah sehingga ia diminta untuk bertaubat, jika tidak mau bertaubat maka dibunuh. Kita memohon kepada Allah agar memperbaiki kondisi kaum Muslimin dan menganugerahi mereka kefahaman tentang agama serta menunjukkan mereka untuk senantiasa saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, amar ma’ruf dan nahyi mungkar, serta saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, sesungguhnya Dia Maha Baik lagi Maha Mulia.
[Fatawa Muhimmah Tata’allaqu Bish Shalah, hal.21-27, Syaikh Ibnu Baz]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 196-199 Darul Haq]
Ponorogo, 14 Agustus 2008
Bahrodin Rahmat